Jangan Redam Emosi Saat Patah Hati, Belajarlah Menerimanya


Kehilangan seseorang yang disayangi memang menyakitkan, entah kekasih atau suami. Apapun statusnya, yang namanya sakit hati, rasanya pasti sama. Namun, Anda juga perlu ingat, janganlah terpuruk terlalu lama.
Karena, saat berpisah dengan seseorang yang berarti dalam hidup, wajar saja jika merasakan kekecewaan, marah, dan sedih. Nyaris semua orang di dunia pernah mengalaminya. Jadi, Anda tidak sendiri.
Saat sedang merasakan lara dan kesedihan akibat patah hati, jangan mencoba untuk meredam emosi yang Anda rasakan. Sebaliknya, Anda harus belajar menerimanya. Jikalau ingin menangis meraung-meraung, lakukanlah. Bila ingin marah dengan berteriak-teriak, jangan ditahan, luapkanlah!

Baca Juga:

"Sikap menerima emosi negatif dapat memudahkan proses pemulihan diri sendiri. Sebaliknya, jika ditekan atau ditahan, malah akan membuat kita lelah menghadapi masalah. Memiliki sikap menerima sejak awal, membuat energi kita jadi fokus untuk mencari penyelesaian masalah'' demikian menurut Fika Frahesti Yunita, Mpsi, psikolog dari RS Royal Progress, Sunter, Jakarta Utara.
Memang tidak mudah untuk ikhlas menerima perasaan negatif dan mengekspresikannya dengan cara yang lebih baik. Menurut Jefferey Rossman, PhD dalam bukunya The Mind-Body Mood Solution, menyarankan untuk melakukan langkah-langkah berikut ini:
Ringankan perasaan hati
Tidak masalah bila berkata, "Rasanya aku mau menabrak mantan suami dengan truk!". Mengungkapkan kekesalan dipercaya dapat membuat perasan jadi lebih lega, dan belajar menelaah emosi di dalam diri.
Namun ingat, apapun kekesalan Anda, ungkapkan di mulut saja, jangan direalisasikan menjadi suatu tindakan. Mengapa? Karena Anda adalah seorang perempuan cerdas, bukan perempuan emosional.
Mencurahkan isi hati pada seseorang
Jangan bersembunyi atau mengucilkan diri. Bicaralah dengan seseorang, meski ini tidak berarti menumpahkan isi hati pada semua orang yang bersimpati dan menanyakan kabar Anda. Seleksilah orang-orang yang benar-benar peduli dan dekat dengan Anda, dapat dipercaya, serta yang bersedia mendengarkan curahan hati Anda.
Tulislah jurnal atau "blog"
Studi membuktikan, menuliskan pengalaman traumatis adalah salah satu jalan untuk membantu mengurangi risiko jatuh sakit atau depresi yang diakibatkan. Semakin banyak yang Anda tulis seputar situasi pelik yang sedang dialami, respons emosi negatif terhadap ingatan akan semakin memudar. Mengungkapkan serta mengekspresikan rasa marah, duka, atau takut melalui tulisan juga akan membantu meredakan dan melepaskan emosi negatif. (*)

2 comments:

 
Top